Jangan Berharap

Catatan kecil ini untuk mengingatkan saya bahwa dalam hidup itu “jangan berharap”.

Hari ini begitu luar biasa bagi saya, karena pagi ini saya serasa diingatkan akan hidup. Bagaimana tidak, dengan kesibukan yang luar biasa setelah resign dari pekerjaan yang luar biasa menyedot waktu dan perhatian hanya untuk pekerjaan, dan saat ini sebagai seorang yang menghabiskan waktu di usaha milik sendiri, saya juga meneruskan hobi yang dulu sempat saya kerjakan di sela-sela pekerjaan yaitu menulis termasuk salah satunya adalah nge-blog.

Menjadi seorang blogger memang bukan cita-cita dan harapan saya dari awal, saya sendiri pun mengenal ngeblog tahun 2012 dan itu pun karena ingin mengaktualisasikan beberapa bahan untuk mengajar, saat itu memang saya kerap menjadi pengajar di sebuah Bank BUMN di Surabaya. Dan blog itu pun hanya berisi beberapa tulisan, setelah itu vacuum.

Jangan berharap
Jangan berharap

Dan tulisan yang lain, ada yang berisi tentang kuliner, travelling, manajemen, finance dan lain-lain, masih dalam tahap penulisan dan belajar. Adanya dorongan dan harapan untuk mendapatkan uang dari hasil menulis, terutama ajakan dari kawan untuk memasukkan ke program adsense, mengakibatkan saya kemrungsung dalam menulis, tidak lagi menulis dari hati, akhirnya menulisnya pun menjadi asal-asalan, tidak terjadwal, tidak terprogram, akhirnya lebih banyak menyesal karena harapan menulis yang tidak terlaksana diakibatkan faktor kemrungsung tadi dan kenyataan ditolak adsense berulang kali malah membuat saya ingin lebih banyak menulis, tapi yang saya sayangkan adalah hanya untuk memperbanyak tulisan bukan untuk menulis dengan kualitas.

Akhirnya baru tadi saya seperti disadarkan, bahwa semua itu berproses, seperti bisnis kecil yang saat ini sudah berjalan hampir 3 tahun, hanya kuliner kecil di sebuah ruko, itu pun melalui liku-liku yang menurut saya luar biasa, dari yang berdasi menjadi yang hanya berkaos dan bercelana pendek doang.

Begitu juga dengan menulis di blog atau nge-blog ini, sejak pagi tadi, merenung harus mulai dari titik nol, menulis dengan hati, berproses, dan tidak boleh mengharap apa pun... “Just writing and keep to writing”.
Sama seperti yang disampaikan maestro bisnis idola saya, Om Bob Sadino, “Dalam melakukan sesuatu apalagi berbisnis, “Jangan berharap”, berharap besar maka menyesalnya juga besar, berharapnya kecil maka menyesalnya pun kecil. Kalau bisa jangan berharap”.

Satu lagi yang membuat saya tergugah agar tidak kemrungsung, salah satu tulisan guru kumon anak saya yang ditujukan untuk kami sebagai orang tua, bahwa keberhasilan dalam belajar adalah konsisten, dan yang paling utama adalah menjalankan rencana yang ada dengan penuh komitmen, secara konsisten dan mandiri. Beliau juga menuliskan  bahwa kebanyakan siswa hanya bersemangat di awal, namun mulai lemah, malas dan dan enggan di tengah jalan. Dan akhirnya kita tidak pernah sampai menuju puncak atau pun merasakan keberhasilan meskipun sudah memiliki bahkan merancang hal-hal hebat. Satu lagi tulisan Ibu Nabilah Faza - Guru Kumon, beliau menggaris bawahi hal yang sangat menyentil saya, yaitu dengan “melakukan dan menyelesaikan”, yang maksudnya melalukan yang telah dimulai dan menyelesaikan semua yang telah dikerjakan.

Yess...komitmen untuk melakukan dan menyelesaikan adalah hal penting dalam menulis. Sejak sekarang, saya pun harus mulai berdamai dengan hati, mengembalikan lagi niat untuk menulis dengan hati, bersabar dalam menulis dan menikmati proses dalam menulis, belajar banyak hal dalam nge-blog serta mengatur jadwal dalam menulis, serta menghidupkan lagi blog yang lama tidak saya datangi.

Terima kasih untuk segalanya, khususnya Alloh yang selalu mengingatkan dalam bentuk yang selalu tidak terduga. Amiin


Bromo, 27 November 2016

Post a Comment

0 Comments